Orang Asing yang Ku Temui di Bus Secara Acak

Bus jurusan Magelang – Wonosobo ini panas dan berbau asap rokok. Aku tengok sumbernya, si supir sendiri. Dia merokok dalam bosan sambil memainkan ponselnya. Sudah dua puluh menit ngetem di terminal Temanggung tapi tidak kunjung ada penumpang baru yang naik. Ahh, kalau bosan kenapa tidak langsung tancap gas saja? Kalau cepat sampai ke Wonosobo bisa…

Awalnya Bagi Kamila

Namaku Kamila. Nama ku setelah menikah Kamila Harjanto. Bukan tertera pada dokumen resmi memang, hanya pada tatto badanku. Kutambahi nama belakangnya tujuh tahun yang lalu. Sampai sekarang masih menempel di pundak kiriku. Sering kugiring rambutku ke balik leher, menguntainya jatuh di pundak kanan. Kulihat di kaca dan kubaca dalam hati. Kamila Harjanto. “Mbak, kalau aku…

Penjelasanku

Ini pertama kalinya aku punya handphone canggih, yang bisa langsung nyambung ke facebook dan ada aplikasi whatsappnya. Aku kurang paham sama aplikasi-aplikasi kayak gitu, tapi tiba-tiba aku masuk jadi anggota grup SMA. Dan tiba-tiba aku punya janji ketemuan sama Lina di PIM. Lina itu teman SMA ku dulu. Dia anak pindahan dari Jakarta. Dia yang…

Rosetta

Mereka bilang aku boleh memilih sebuah nama. Sebisa mungkin sederet alfabet yang bermakna. Mungkin Hebrew atau Urdu? Supaya terkesan kuno dan ilahi. Karena, nama lampu merah sangat penting untuk perlindungan diri. Identitas yang melekat saat aku berdiri di sekitar daerah lampu merah dengan dandanan sensual. Tapi memilih sebuah nama sama sekali bukan bentuk perlindungan. Perlindungan…

Norm[al] – 1

EPILOG “Kamu pernah bercinta kayak laki-laki?” Amanda sedikit tinggi malam ini dan memutuskan untuk menjadi filososif. Aku yang hanya sedikit lebih sadar daripada dia menatapnya samar-samar. Aku tahu Amanda punya bibir mungil dan mata cokelat yang sempurna, namun yang menatapku balik adalah dua mata yang hampir bertautan satu sama lain dan bibir berlipstik merah yang…

Tentang Lelaki Saya Dulu

Dulu saya pernah berpacaran dengan seorang lelaki. Dia gagah, seperti seorang tokoh ksatria di kisah perwayangan Jawa. Badannya tinggi dan kulitnya kecoklatan. Tutur katanya halus dan tindak tanduknya membikin saya luluh. Dia sangat memuja saya. Katanya kulit saya begitu halus dan putih, dia tidak bisa menahan tangannya untuk tidak membelai saya. Menurutnya saya tidak pantas…

Pelangi Cinta dan Kebahagiaan

Aku tidak bisa mempercayai apa yang ku lihat: sebuah undangan putih dengan bingkai warna-warni pelangi. Undangan itu bergambar orang-orang dengan pilihan gaya yang tidak ku pahami. Wig pink, potongan pakaian seksi, aksesoris festival, dan bendera pelangi. Mereka semua tampak membuka mulut dan mengangkat tangan seperti hendak meneriakkan kebebasan, berpose bahagia, memegang kertas bergambar hati, atau…

Yaz

Pukul sepuluh malam. Pengingat di ponsel saya berbunyi. Ambil drospirenone 3mg + ethinylestradiol 0.02 mg Anda. Saya sengaja memasang memo dengan lengkap. Saya bisa saja menulis ambil pil YAZ Anda. Tapi saya ingin selalu ingat apa-apa saja yang saya masukkan ke tubuh saya. Dua minggu lagi hari pernikahan saya, dan baru kemarin saya berhenti haid….

The Randomly Determined Date

“Halo?” Aku meraih benda kecil di balik bantalku, yang bergetar-getar karena sebuah panggilan masuk. Aku menjawab tanpa melihat siapa yang menelepon, masih mencoba untuk bangun. Tuhan, siapa sih yang tega menelepon jam 8 pagi di hari Sabtu? Tidak bisakah aku menikmati akhir pekan dengan tenang, setelah malam yang agak random karena kebanyakan minum? Aku jadi…

So It Begins

Seperti semua hal lainnya, kegilaan juga memiliki titik awal. Aku harus mengingat dengan baik, tapi ku rasa hal baik sulit untuk dilupakan. Terutama jika hal baik itu melibatkan seorang teman dengan over-dosis intimidasi, sedikit pengaruh bir lokal, dan seseorang dengan sorot mata penuh kelembutan dan senyum tulus yang bernama… “I’m Jayden,” katanya. Beberapa waktu yang…

Madnes

“Come live with me in Holland,” kata Jayden, setelah kami menghabiskan beberapa waktu bersama. Aku tersenyum menanggapi perkataan gila itu. “That means we have to marry,” kataku, setengah bercanda, pada laki-laki yang mengenakan topi ‘madnes’ itu (ya, dengan satu s). “Then let’s get married!” “This is madnes!” Aku menanggapinya sambil lalu dan melepas topi itu…